JAKARTA – Sistem pelayanan anyar akan dirancang Direktorat Jenderal Imigrasi (Ditjenim) bagi masyarakat yang mengajukan permohonan pembuatan paspor. Nantinya, pembuatan paspor dapat diakses secara on line melalui internet, sedang pembayarannya bisa non tunai menggunakan kartu kredit.
Demikian diungkapkan Kabag Perlengkapan dan Rumah Tangga Depkumham Ida Bagus Adnyana didampingi Kabag Humas, Litigasi, dan Tata Usaha Ditjenim Dahlan Pasaribu, kepada wartawan, Kamis (10/4). Sistem pelayanan pembuatan paspor melalui internet itu akan diluncurkan bersamaan dengan diterbitkannya paspor jenis baru, Juli atau Agustus 2008 mendatang.
“Jadi bagi masyarakat yang sibuk kan tidak perlu repot-repot datang mengantri ke Kantor Imigrasi (Kanim), karena mereka bisa mengisi formulir permohonannya melalui internet. Setelah itu, mereka akan mendapatkan code number untuk mengambilnya di Kanim mana mereka mengajukan permohonan itu,” jelas Ida Bagus.
Selain itu, pembayaran juga bisa dilakukan secara tunai dan non tunai. “Pemohon yang tidak membawa uang tunai, bisa membayar dengan kartu kredit,” katanya.
Hari itu, Ditjenim juga mengumumkan perusahaan pemenang tender pengadaan sistem penerbitan Surat Perjalanan RI (SPRI/paspor). Dana sebesar Rp 107 miliar lebih digelontorkan untuk pengeloaan paspor jenis baru dengan identifikasi sidik jari dan face recognition. Dana pengelolaan itu hanya berlaku untuk satu tahun.
Ida Bagus yang juga Ketua Lelang, mengatakan, dalam pelelangan tender pengadaan sistem penerbitan paspor itu sebelumnya terdapat 81 perusahaan penawar. Dari jumlah itu kemudian dilakukan evaluasi, sehingga mengerucut menjadi sejumlah 40, 21, 7, 3, dan terakhir hanya satu perusahaan yang dipilih sebagai rekanan, yaitu PT Berca Hardaya Perkasa (BHP).
Dia merinci, pada evaluasi tiga perusahaan terakhir, penawar tertinggi adalah PT Intikom Berlian Mustika (IBM) dengan nilai penawaran lebih dari Rp 112 miliar. Penawar terendah PT Mulia Indonesia (MI)–Rp 89,9 miliar. Sedang nilai penawaran PT Berca Hardaya Perkasa (BHP) sebesar Rp 107 miliar.
Diakui Ida Bagus, PT BHP yang memenangkan tender memang bukan penawar terendah. Selisihnya Rp 17,267 miliar lebih tinggi dari penawar terendah. Namun, katanya, perusahaan ini memenuhi seluruh persyaratan yang diminta Ditjenim. Yakni aspek persyaratan teknis, analisa kewajaran harga, dan aspek biaya kepemilikan (cost of ownership).
Dari aspek biaya kepemilikan yang dipenuhi PT BHP, lanjut Ida Bagus, perusahaan ini justru memberi keuntungan kepada negara. Sebab, negara tidak dibebani lagi dengan biaya lisensi AFIS (perumusan sidik jari) dan face recognition.
“Hitung-hitung kalau kita sudah memiliki lisensi AFIS dan face recognition, dengan asumsi setahun diterbitkan 2 juta paspor, negara akan menghemat biaya mencapai Rp 33,274 miliar per tahun. Berapa yang dihemat kalau lima tahun, kalikan saja,” katanya.
Sementara terkait penerbitan paspor baru tersebut, secara serentak akan diberlakukan per Agustus 2008 di 108 lokasi, ditambah satu lokasi di kantor pusat sebagai data center. “Mulai dari Kanim yang produknya kecil yang tiap harinya hanya melayani 5 paspor, sampai Kanim yang produknya besar antara 1.000-1500 paspor,” pungkas Ida Bagus. ** mahadir romadhon
Demikian diungkapkan Kabag Perlengkapan dan Rumah Tangga Depkumham Ida Bagus Adnyana didampingi Kabag Humas, Litigasi, dan Tata Usaha Ditjenim Dahlan Pasaribu, kepada wartawan, Kamis (10/4). Sistem pelayanan pembuatan paspor melalui internet itu akan diluncurkan bersamaan dengan diterbitkannya paspor jenis baru, Juli atau Agustus 2008 mendatang.
“Jadi bagi masyarakat yang sibuk kan tidak perlu repot-repot datang mengantri ke Kantor Imigrasi (Kanim), karena mereka bisa mengisi formulir permohonannya melalui internet. Setelah itu, mereka akan mendapatkan code number untuk mengambilnya di Kanim mana mereka mengajukan permohonan itu,” jelas Ida Bagus.
Selain itu, pembayaran juga bisa dilakukan secara tunai dan non tunai. “Pemohon yang tidak membawa uang tunai, bisa membayar dengan kartu kredit,” katanya.
Hari itu, Ditjenim juga mengumumkan perusahaan pemenang tender pengadaan sistem penerbitan Surat Perjalanan RI (SPRI/paspor). Dana sebesar Rp 107 miliar lebih digelontorkan untuk pengeloaan paspor jenis baru dengan identifikasi sidik jari dan face recognition. Dana pengelolaan itu hanya berlaku untuk satu tahun.
Ida Bagus yang juga Ketua Lelang, mengatakan, dalam pelelangan tender pengadaan sistem penerbitan paspor itu sebelumnya terdapat 81 perusahaan penawar. Dari jumlah itu kemudian dilakukan evaluasi, sehingga mengerucut menjadi sejumlah 40, 21, 7, 3, dan terakhir hanya satu perusahaan yang dipilih sebagai rekanan, yaitu PT Berca Hardaya Perkasa (BHP).
Dia merinci, pada evaluasi tiga perusahaan terakhir, penawar tertinggi adalah PT Intikom Berlian Mustika (IBM) dengan nilai penawaran lebih dari Rp 112 miliar. Penawar terendah PT Mulia Indonesia (MI)–Rp 89,9 miliar. Sedang nilai penawaran PT Berca Hardaya Perkasa (BHP) sebesar Rp 107 miliar.
Diakui Ida Bagus, PT BHP yang memenangkan tender memang bukan penawar terendah. Selisihnya Rp 17,267 miliar lebih tinggi dari penawar terendah. Namun, katanya, perusahaan ini memenuhi seluruh persyaratan yang diminta Ditjenim. Yakni aspek persyaratan teknis, analisa kewajaran harga, dan aspek biaya kepemilikan (cost of ownership).
Dari aspek biaya kepemilikan yang dipenuhi PT BHP, lanjut Ida Bagus, perusahaan ini justru memberi keuntungan kepada negara. Sebab, negara tidak dibebani lagi dengan biaya lisensi AFIS (perumusan sidik jari) dan face recognition.
“Hitung-hitung kalau kita sudah memiliki lisensi AFIS dan face recognition, dengan asumsi setahun diterbitkan 2 juta paspor, negara akan menghemat biaya mencapai Rp 33,274 miliar per tahun. Berapa yang dihemat kalau lima tahun, kalikan saja,” katanya.
Sementara terkait penerbitan paspor baru tersebut, secara serentak akan diberlakukan per Agustus 2008 di 108 lokasi, ditambah satu lokasi di kantor pusat sebagai data center. “Mulai dari Kanim yang produknya kecil yang tiap harinya hanya melayani 5 paspor, sampai Kanim yang produknya besar antara 1.000-1500 paspor,” pungkas Ida Bagus. ** mahadir romadhon

Tidak ada komentar:
Posting Komentar